Aku pernah
berfikir akan cinta yang yang indah, cinta yang hanya ada kita berdua. Dimasa
itu, sekarang dan nanti.
Dulu aku takut
untuk membayangkan hal terburuk yang mungkin saja akan terjadi, sampai ahirnya
benar-benar terjadi, menyisakan luka dan kepedihan.
Namun setelahnya
aku meyakinkan diriku, bahwa semua yang aku lakukan sudah benar.
Memang sulit
untuk menetralkan rasa itu. Salah-salah aku malah membencimu.
Dan benar saja,
rasa itu pernah menjadi benci, benci yang teramat. Semua kekuranganmu kujadikan
alasan aku membencimu tanpa aku memandang sifat lain yang ada dalam dirimu,
yang pernah aku cintai.
Aku pernah
mencoba bersama yang lain, alih-alih berharap itu akan lebih baik. Namun dua
bulan setelahnya aku baru menyadari bersama orang itu malah membawaku kembali
pada suatu memori masa lalu, kamu..
Aku mulai
membanding-bandingkan dirinya dengan dirimu, yang aku tahu kamu lebih baik
daripadanya. Walaupun semua orang memiliki sifat yang berbeda. Namun seolah
terbutakan oleh semua itu, aku marah, aku benci bahkan merasa jijik dengannya,
kekasihku kala itu. Dan akhirnya aku memilih mengakhiri hubungan itu.
Sejak itu aku
mulai menatap lagi lembaran masa lalu, yang tanpa aku sadar telah menarikku
untuk masuk lagi kedalamnya.
Rasa itu datang
lagi.
Disaat mungkin
kamu sudah mulai terbiasa tanpa aku, saat dimana kamu sudah mulai membuka
hatimu untuk cinta yang lain, aku datang mengacaukan semuanya.
Dengan sisa sisa
keberanianku, aku bertanya kepadamu “apa kamu masih sayang aku?”
Saat mengajukan
pertanyaan itu, aku sudah siap jika kau akan membenciku, jika sebelumnya kau
telah membenciku, maka kebencianmu terhadapku akan bertambah, atau kau
menganggapku seseorang yang tidak tahu diri sekalipun aku siap.
Lama aku
memikirkannya,tanpa melalukan sesuatu. Hanya memikirkannya, tak lebih.
Sampai aku mulai
berani menunjukkan perasaan ini lagi. Aku, masih mencintaimu.
Semua ini bukan
aku yang ingin. Tapi takdir.
Maaf, telah
menyakitimu, membuatmu kecewa akan diriku, membuatmu sakit, mebuatmu trauma
akan kisah kita yang lalu.
Namun kau pernah
memberiku secercah harap, dan itulah yang sampai saat ini membuatku masih
bertahan, bertahan akan sebuah cinta yang semu, bertahan diatas sebuah
ketidakpastian. Walau pernah aku ingin menyerah karenanya.
Aku tahu, memang
dari awal semua ini salahku. Tapi sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadapku
saat ini? Masihkah seperti dulu? aku sangsi jika itu yang kau katakan, kau
telah membohongiku.
Lalu, apa
maksudmu membiarkan hubungan kita menjadi seperti sekarang ini? Bukankah lebih
baik kau mengatakan kau membenciku, jika kau memang membenciku, atau katakan
saja kau ingin aku pergi jika kau tak ingin aku terus membayangimu.
Kau memintaku
untuk menunggu, ya.. Aku tahu cinta itu butuh waktu. Tapi berapa lama aku harus
menunggumu? Dan apakah jika aku terus menunggu, pada akhirnya kita akan bersama
lagi?
Kau tak pernah
memberitahukanku, sampai kapan aku harus
menunggu, atau memintaku untuk berhenti menunggu.
Apa ini
sebenarnya? sebuah permainankah?
Apa kau bisa
menjelaskannya?
Kau hanya diam.
Seakan dengan diam, waktu akan menjawab semua pertanyaan itu dengan sendirinya.
Tapi apa kau
pernah menyadari bahwa menungu juga.. membutuhkan waktu?
Dan waktu juga,
lambat alun akan mengubah rasa?
Apa kau menyadari
semua itu???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar