Rabu, 29 Mei 2013

Nyatanya Apa?


Aku pernah berfikir akan cinta yang yang indah, cinta yang hanya ada kita berdua. Dimasa itu, sekarang dan nanti.
Dulu aku takut untuk membayangkan hal terburuk yang mungkin saja akan terjadi, sampai ahirnya benar-benar terjadi, menyisakan luka dan kepedihan.
Namun setelahnya aku meyakinkan diriku, bahwa semua yang aku lakukan sudah benar.
Memang sulit untuk menetralkan rasa itu. Salah-salah aku malah membencimu.
Dan benar saja, rasa itu pernah menjadi benci, benci yang teramat. Semua kekuranganmu kujadikan alasan aku membencimu tanpa aku memandang sifat lain yang ada dalam dirimu, yang pernah aku cintai.
Aku pernah mencoba bersama yang lain, alih-alih berharap itu akan lebih baik. Namun dua bulan setelahnya aku baru menyadari bersama orang itu malah membawaku kembali pada suatu memori masa lalu, kamu..
Aku mulai membanding-bandingkan dirinya dengan dirimu, yang aku tahu kamu lebih baik daripadanya. Walaupun semua orang memiliki sifat yang berbeda. Namun seolah terbutakan oleh semua itu, aku marah, aku benci bahkan merasa jijik dengannya, kekasihku kala itu. Dan akhirnya aku memilih mengakhiri hubungan itu.
Sejak itu aku mulai menatap lagi lembaran masa lalu, yang tanpa aku sadar telah menarikku untuk masuk lagi kedalamnya.
Rasa itu datang lagi.
Disaat mungkin kamu sudah mulai terbiasa tanpa aku, saat dimana kamu sudah mulai membuka hatimu untuk cinta yang lain, aku datang mengacaukan semuanya.
Dengan sisa sisa keberanianku, aku bertanya kepadamu “apa kamu masih sayang aku?”
Saat mengajukan pertanyaan itu, aku sudah siap jika kau akan membenciku, jika sebelumnya kau telah membenciku, maka kebencianmu terhadapku akan bertambah, atau kau menganggapku seseorang yang tidak tahu diri sekalipun aku siap.
Lama aku memikirkannya,tanpa melalukan sesuatu. Hanya memikirkannya, tak lebih.
Sampai aku mulai berani menunjukkan perasaan ini lagi. Aku, masih mencintaimu.
Semua ini bukan aku yang ingin. Tapi takdir.
Maaf, telah menyakitimu, membuatmu kecewa akan diriku, membuatmu sakit, mebuatmu trauma akan kisah kita yang lalu.
Namun kau pernah memberiku secercah harap, dan itulah yang sampai saat ini membuatku masih bertahan, bertahan akan sebuah cinta yang semu, bertahan diatas sebuah ketidakpastian. Walau pernah aku ingin menyerah karenanya.
Aku tahu, memang dari awal semua ini salahku. Tapi sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadapku saat ini? Masihkah seperti dulu? aku sangsi jika itu yang kau katakan, kau telah membohongiku.
Lalu, apa maksudmu membiarkan hubungan kita menjadi seperti sekarang ini? Bukankah lebih baik kau mengatakan kau membenciku, jika kau memang membenciku, atau katakan saja kau ingin aku pergi jika kau tak ingin aku terus membayangimu.
Kau memintaku untuk menunggu, ya.. Aku tahu cinta itu butuh waktu. Tapi berapa lama aku harus menunggumu? Dan apakah jika aku terus menunggu, pada akhirnya kita akan bersama lagi?
Kau tak pernah memberitahukanku, sampai kapan aku  harus menunggu, atau memintaku untuk berhenti menunggu.
Apa ini sebenarnya? sebuah permainankah?
Apa kau bisa menjelaskannya?
Kau hanya diam. Seakan dengan diam, waktu akan menjawab semua pertanyaan itu dengan sendirinya.
Tapi apa kau pernah menyadari bahwa menungu juga.. membutuhkan waktu?
Dan waktu juga, lambat alun akan mengubah rasa?
Apa kau menyadari semua itu???

Tidak ada komentar: