Seluruh waktu hanya memikirkan
dia, segala sesuatu yang dilakukannya selalu mengingatkan orang itu tentang
dia. Sakit? jika harus memilih antara harakiri atau melihat dia terus bersama
pasangannya, orang itu pasti akan memilih opsi pertama. Sebuah pengandaian.
Setiap detik terbuang sia-sia.
Memperdulikan dia yang sama sekali tak memperdulikanorang itu lagi. Jangankan
untuk memperdulikan orang itu, mengingat namanya pun mungkin tidak, padahal
orang itu pernah menjadi seseorang yang berarti, sebelum dia memilih orang lain.
Seseorang lainnya bingung,
sebenarnya apa inginnya orang itu? dia sudah pergi! mungkin takkan kembali.
Lihat saja dia sekarang, sepertinya dia begitu menyayangi pasangannya. Lalu apa
mau orang itu? Berharap bulan jatuh tepat dihadapannya? berharap dia menyapa
orang itu dan kembali kepadanya? Tidakkah seharusnya orang itu berpikir, dia
telah meninggalkannya demi orang lain. Lalu apa? Bukankah seharusnya orang itu
lelah harus menunggu selama ini? bahkan menunggu dalam diam karena dia tak
pernah sadar orang itu masih menunggunya. Sebenarnya apa yang membuatnya kuat
untuk bertahan, sedangkan tak ada tempat untuk menggantungkan harapan?
Orang itu memang tak harus
banyak berpikir logis, karena cinta kadang tidak mengenalnya. Tapi setidaknya
pikirkan dirinya sendiri, bagaimana masa depannya. Memangnya orang itu tahu
bahwa dia adalah orang yang dikirim Tuhan untuk menjadi pasangannya kelak? Jika
orang itu menjawab “Ya” berarti dia sok tahu! sedangkan Tuhan merahasiakannya
itu.
Orang itu harusnya sadar, orang itu harusnya
tetap berusaha menjadi lebih baik, untuk menjadi lebih baik J Jangan seperti sekarang ini. Galau
sepertinya sudah menjadi menu favoritnya setiap hari.
Jika
orang itu diibaratkan selembar kertas dan dia adalah sebuah pensil maka kertas
butuh sebuah penghapus :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar