Rabu, 29 Mei 2013

Hard To Say Goodbye


Dia tak mungkin kembali, karena dia telah lama pergi. Tak disangka hanya butuh waktu sedikit untuknya menemukan seseorang yang baru, padahal namanya bagaikan pahatan diatas batu bagi seseorang disana. Padahal dirinya bagaikan udara sehingga orang tersebut  tak bisa hidup tanpanya.

Seluruh waktu hanya memikirkan dia, segala sesuatu yang dilakukannya selalu mengingatkan orang itu tentang dia. Sakit? jika harus memilih antara harakiri atau melihat dia terus bersama pasangannya, orang itu pasti akan memilih opsi pertama. Sebuah pengandaian.

Setiap detik terbuang sia-sia. Memperdulikan dia yang sama sekali tak memperdulikanorang itu lagi. Jangankan untuk memperdulikan orang itu, mengingat namanya pun mungkin tidak, padahal orang itu pernah menjadi seseorang yang berarti, sebelum dia memilih orang lain.

Seseorang lainnya bingung, sebenarnya apa inginnya orang itu? dia sudah pergi! mungkin takkan kembali. Lihat saja dia sekarang, sepertinya dia begitu menyayangi pasangannya. Lalu apa mau orang itu? Berharap bulan jatuh tepat dihadapannya? berharap dia menyapa orang itu dan kembali kepadanya? Tidakkah seharusnya orang itu berpikir, dia telah meninggalkannya demi orang lain. Lalu apa? Bukankah seharusnya orang itu lelah harus menunggu selama ini? bahkan menunggu dalam diam karena dia tak pernah sadar orang itu masih menunggunya. Sebenarnya apa yang membuatnya kuat untuk bertahan, sedangkan tak ada tempat untuk menggantungkan harapan?

Orang itu memang tak harus banyak berpikir logis, karena cinta kadang tidak mengenalnya. Tapi setidaknya pikirkan dirinya sendiri, bagaimana masa depannya. Memangnya orang itu tahu bahwa dia adalah orang yang dikirim Tuhan untuk menjadi pasangannya kelak? Jika orang itu menjawab “Ya” berarti dia sok tahu! sedangkan Tuhan merahasiakannya itu.

Orang itu harusnya sadar, orang itu harusnya tetap berusaha menjadi lebih baik, untuk menjadi lebih baik J Jangan seperti sekarang ini. Galau sepertinya sudah menjadi menu favoritnya setiap hari.
               
Jika orang itu diibaratkan selembar kertas dan dia adalah sebuah pensil maka kertas butuh sebuah penghapus :)

Tidak ada komentar: