Rabu, 29 Mei 2013
Kertas Kelam
Dalam gelap seperti malam lalu
Kertas kelam membelenggu
Pena menari seirama jemariku
Seseorang datang membuka pintu
Buatku termangu
Berpaling dari kertas kelam itu
Menatap penuh ambigu
Semburat senyum menyayat kalbu,
pilu..
Tulisan yang tergores di kertas kelam itu,
Apa kau ingin tahu?
Mengapa di kertas itu?
Tentu saja
karena itu puisi kelamku
Sekelam waktu penantian ini
Sekelam langkah lelah membuatmu mengerti
Sekelam asa yang perlahan mati
Sekelam cinta yang seolah fiksi
Sinarmu tak terjamah mentari
Ucapmu hanya selalu tak mengerti
Penjelasan hanya menjadi kontradiksi
Karena kau begitu rumit dan tinggi hati
Mengertilah, banyak hal beroposisi
nb: poerty pertama yang aku publish ke blog ini :) hasil dari tugas bahasa indonesia yang nyuruh bikin puisi
Nyatanya Apa?
Aku pernah
berfikir akan cinta yang yang indah, cinta yang hanya ada kita berdua. Dimasa
itu, sekarang dan nanti.
Dulu aku takut
untuk membayangkan hal terburuk yang mungkin saja akan terjadi, sampai ahirnya
benar-benar terjadi, menyisakan luka dan kepedihan.
Namun setelahnya
aku meyakinkan diriku, bahwa semua yang aku lakukan sudah benar.
Memang sulit
untuk menetralkan rasa itu. Salah-salah aku malah membencimu.
Dan benar saja,
rasa itu pernah menjadi benci, benci yang teramat. Semua kekuranganmu kujadikan
alasan aku membencimu tanpa aku memandang sifat lain yang ada dalam dirimu,
yang pernah aku cintai.
Aku pernah
mencoba bersama yang lain, alih-alih berharap itu akan lebih baik. Namun dua
bulan setelahnya aku baru menyadari bersama orang itu malah membawaku kembali
pada suatu memori masa lalu, kamu..
Aku mulai
membanding-bandingkan dirinya dengan dirimu, yang aku tahu kamu lebih baik
daripadanya. Walaupun semua orang memiliki sifat yang berbeda. Namun seolah
terbutakan oleh semua itu, aku marah, aku benci bahkan merasa jijik dengannya,
kekasihku kala itu. Dan akhirnya aku memilih mengakhiri hubungan itu.
Sejak itu aku
mulai menatap lagi lembaran masa lalu, yang tanpa aku sadar telah menarikku
untuk masuk lagi kedalamnya.
Rasa itu datang
lagi.
Disaat mungkin
kamu sudah mulai terbiasa tanpa aku, saat dimana kamu sudah mulai membuka
hatimu untuk cinta yang lain, aku datang mengacaukan semuanya.
Dengan sisa sisa
keberanianku, aku bertanya kepadamu “apa kamu masih sayang aku?”
Saat mengajukan
pertanyaan itu, aku sudah siap jika kau akan membenciku, jika sebelumnya kau
telah membenciku, maka kebencianmu terhadapku akan bertambah, atau kau
menganggapku seseorang yang tidak tahu diri sekalipun aku siap.
Lama aku
memikirkannya,tanpa melalukan sesuatu. Hanya memikirkannya, tak lebih.
Sampai aku mulai
berani menunjukkan perasaan ini lagi. Aku, masih mencintaimu.
Semua ini bukan
aku yang ingin. Tapi takdir.
Maaf, telah
menyakitimu, membuatmu kecewa akan diriku, membuatmu sakit, mebuatmu trauma
akan kisah kita yang lalu.
Namun kau pernah
memberiku secercah harap, dan itulah yang sampai saat ini membuatku masih
bertahan, bertahan akan sebuah cinta yang semu, bertahan diatas sebuah
ketidakpastian. Walau pernah aku ingin menyerah karenanya.
Aku tahu, memang
dari awal semua ini salahku. Tapi sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadapku
saat ini? Masihkah seperti dulu? aku sangsi jika itu yang kau katakan, kau
telah membohongiku.
Lalu, apa
maksudmu membiarkan hubungan kita menjadi seperti sekarang ini? Bukankah lebih
baik kau mengatakan kau membenciku, jika kau memang membenciku, atau katakan
saja kau ingin aku pergi jika kau tak ingin aku terus membayangimu.
Kau memintaku
untuk menunggu, ya.. Aku tahu cinta itu butuh waktu. Tapi berapa lama aku harus
menunggumu? Dan apakah jika aku terus menunggu, pada akhirnya kita akan bersama
lagi?
Kau tak pernah
memberitahukanku, sampai kapan aku harus
menunggu, atau memintaku untuk berhenti menunggu.
Apa ini
sebenarnya? sebuah permainankah?
Apa kau bisa
menjelaskannya?
Kau hanya diam.
Seakan dengan diam, waktu akan menjawab semua pertanyaan itu dengan sendirinya.
Tapi apa kau
pernah menyadari bahwa menungu juga.. membutuhkan waktu?
Dan waktu juga,
lambat alun akan mengubah rasa?
Apa kau menyadari
semua itu???
Pertemuan Pertama
Kamu datang begitu saja, tanpa pernah ada perkenalan yang
berarti, apalagi resmi, tanpa ada kata “hai” keluar dari mulutmu. Semua hanya
berjalan begitu saja, seperti setiap detik yang berlalu begitu saja, pernahkah
kamu menganggapnya begitu sia-sia?
Pertemuan pertama kita penuh dengan canda tawa, gurauan
garing dan monoton yang sebenarnya sudah berkali-kali kita ungkit dalam pesan
singkat. Namun entah mengapa semuanya begitu berbeda ketika diulangi saat kita
bersama.
Jika kamu bertanya, bagaimana kesan pertamaku saat
pertama bertemu denganmu, jawabanku adalah biasa-biasa saja. Walaupun langit
malam itu cerah, ditambah gemerlapan kembang api yang indah seharusnya bisa
membuat semua itu menjadi tidak biasa, tapi entah mengapa aku hanya akan
mengatakan hal yang saja.
Dan jika kamu bertanya, mengapa biasa-biasa saja sedang
ini adalah pertemuan pertama kita, maka aku akan menjawab karena tidak ada
sesuatu yang datang dengan begitu saja di dunia ini.
Sebuah simpul tergambar jelas di wajahmu, tentu saja saat
itu kamu tersenyum. Entah apa objek yang sedang terjaring dipikiranmu, namun
yang terlihat jelas adalah kamu sedang bahagia.
Berapa lama kita bertatap? berapa lama kita berbicara?
berapa lama kita saling mengamati? pastilah tidak begitu lama, karena akhirnya
pertemuan itu berakhir. Saling melambaikan tangan sebagai isyarat perpisahan
untunk pertemuan kita berikutnya.
Hard To Say Goodbye
Seluruh waktu hanya memikirkan
dia, segala sesuatu yang dilakukannya selalu mengingatkan orang itu tentang
dia. Sakit? jika harus memilih antara harakiri atau melihat dia terus bersama
pasangannya, orang itu pasti akan memilih opsi pertama. Sebuah pengandaian.
Setiap detik terbuang sia-sia.
Memperdulikan dia yang sama sekali tak memperdulikanorang itu lagi. Jangankan
untuk memperdulikan orang itu, mengingat namanya pun mungkin tidak, padahal
orang itu pernah menjadi seseorang yang berarti, sebelum dia memilih orang lain.
Seseorang lainnya bingung,
sebenarnya apa inginnya orang itu? dia sudah pergi! mungkin takkan kembali.
Lihat saja dia sekarang, sepertinya dia begitu menyayangi pasangannya. Lalu apa
mau orang itu? Berharap bulan jatuh tepat dihadapannya? berharap dia menyapa
orang itu dan kembali kepadanya? Tidakkah seharusnya orang itu berpikir, dia
telah meninggalkannya demi orang lain. Lalu apa? Bukankah seharusnya orang itu
lelah harus menunggu selama ini? bahkan menunggu dalam diam karena dia tak
pernah sadar orang itu masih menunggunya. Sebenarnya apa yang membuatnya kuat
untuk bertahan, sedangkan tak ada tempat untuk menggantungkan harapan?
Orang itu memang tak harus
banyak berpikir logis, karena cinta kadang tidak mengenalnya. Tapi setidaknya
pikirkan dirinya sendiri, bagaimana masa depannya. Memangnya orang itu tahu
bahwa dia adalah orang yang dikirim Tuhan untuk menjadi pasangannya kelak? Jika
orang itu menjawab “Ya” berarti dia sok tahu! sedangkan Tuhan merahasiakannya
itu.
Orang itu harusnya sadar, orang itu harusnya
tetap berusaha menjadi lebih baik, untuk menjadi lebih baik J Jangan seperti sekarang ini. Galau
sepertinya sudah menjadi menu favoritnya setiap hari.
Jika
orang itu diibaratkan selembar kertas dan dia adalah sebuah pensil maka kertas
butuh sebuah penghapus :)
Langganan:
Komentar (Atom)


